Minggu, 01 April 2012


Anak  Pemarah
Pada rentang usia tertentu, kemarahan yang tiba-tiba memang biasa dan wajar dialami oleh anak-anak. Mereka bisa marah karena sebab apa pun, bahkan yang menurut orangtua sebab-sebabnya remeh. Kemarahan yang seperti ini diberi istilah temper tantrum atau tantrum saja. Masa – masa anak mengalami temper tantrum biasanya pada usia 2-5 tahun atau masa-masa prasekolah.
Perkembangan bahasanya masih terbatas, sehingga saat ia mengalami emosi ia belum paham bagaimana cara mengekpresikannya.  Devi Ayutya Wardhani, M.Psi, menjadi konsultan di Lembaga Psikologi Terapan Univesitas Indonesia. Menjelaskan Ada dua jenis ekspresi kemarahan. Pertama, reaksi marah yang implusif atau agresif, seperti perilaku menendang, melempar dan berguling – guling. Kedua, reaksi marah yang terhambat. Anak dengan kemarahan yang terhambat, pada saat dia marah dia akan cendrung menarik diri dan menghindari orang yang menyebabkan dia marah.
Kalau anak kecil itu justru yang sehat adalah kemarahan yang keluar tadi. Kalau pada saat dia marah, dia malah akan menarik diri,diam, orang tak akan tahu apa yang dia rasakan. Dalam kondisi seperti ini, justru harus mencari penyebab kenapa anak ini tak bisa mengepresikan emosinya. Apa kira-kira yang menghambat dia. Karena normalnya anak-anak itu adalah mahluk yang paling jujur dan spontan, hingga apa yang ada dalam pikirannya lasung dikeluarkan.
Menangani Kemarahan Anak
Perilaku anak yang gampang marah ini, apalagi bila telah melewati masa temper tantrum, tentu tak bisa dibiarkan. Orang-orang disekeliling anak tentu tak merasa nyaman dengan sikap ini. Tak ada perilaku yang tidak bisa diubah. Bahkan walaupun merupakan keturunan, sifat pemarah bisa diarahkan keperilaku yang lebih baik. Devi memberi beberapa poin penting yang mesti diperhatikan orang tua dalam menangani sifat pemarah anak.
Pertama, berikan contoh bagaimana menyalurkan kemarahan dengan cara positif. “Apa yang dilihat dan didengar anak setiap hari, itulah yang diserap dan diterapkannya. Kalau mau anak ini berubah, ya suasana rumahnya juga harus berubah. Sebisa mungkin anak dijauhkan dari lingkungan yang negative sehingga mereka punya model yang bagus untuk perilaku mereka.
Kedua, binalah selalu komunikasi yang baik dengan anak. Dengan komunikasi yang lancar dalam kondisi apapun anak tetap bisa mengungkapkan perasaan dan emosinya kepada orang tua, walaupun yang ingin diungkapkan kemarahan. Dalam suasana ini pula anak bisa dengan mudah diajak untuk belajar mengelola amarahnya dengan cara yang lebih baik, tidak meledak-ledak dan melemparkan barang. Selain mengelola amarah, ajarkan anak untuk memecahkan masalah tersebut.
Ketiga, menahan diri agar jangan ikut terpancing marah. Menghadapi anak yang sedang marah, bisa memancing kemarahan orang tua juga. Sebaliknya, saat anak marah, biarkan sejenak . sementara kita menenangkan diri dulu, jangan sampai orang tua menangani anak yang marah dengan kemarhan juga.
Memang tidak mudah menghadapi anak yang gampang marah, kesabaran dan konsistensi adalah kuncinya.
Sumber :
Majalah Wanita Ummi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar