Anak Pemarah
Pada
rentang usia tertentu, kemarahan yang tiba-tiba memang biasa dan wajar dialami
oleh anak-anak. Mereka bisa marah karena sebab apa pun, bahkan yang menurut
orangtua sebab-sebabnya remeh. Kemarahan yang seperti ini diberi istilah temper tantrum atau tantrum saja. Masa –
masa anak mengalami temper tantrum biasanya pada usia 2-5 tahun atau masa-masa
prasekolah.
Perkembangan
bahasanya masih terbatas, sehingga saat ia mengalami emosi ia belum paham
bagaimana cara mengekpresikannya. Devi
Ayutya Wardhani, M.Psi, menjadi konsultan di Lembaga Psikologi Terapan
Univesitas Indonesia. Menjelaskan Ada dua jenis ekspresi kemarahan. Pertama,
reaksi marah yang implusif atau agresif, seperti perilaku menendang, melempar
dan berguling – guling. Kedua, reaksi marah yang terhambat. Anak dengan
kemarahan yang terhambat, pada saat dia marah dia akan cendrung menarik diri
dan menghindari orang yang menyebabkan dia marah.
Kalau
anak kecil itu justru yang sehat adalah kemarahan yang keluar tadi. Kalau pada
saat dia marah, dia malah akan menarik diri,diam, orang tak akan tahu apa yang
dia rasakan. Dalam kondisi seperti ini, justru harus mencari penyebab kenapa
anak ini tak bisa mengepresikan emosinya. Apa kira-kira yang menghambat dia.
Karena normalnya anak-anak itu adalah mahluk yang paling jujur dan spontan,
hingga apa yang ada dalam pikirannya lasung dikeluarkan.
Menangani Kemarahan Anak
Perilaku
anak yang gampang marah ini, apalagi bila telah melewati masa temper tantrum,
tentu tak bisa dibiarkan. Orang-orang disekeliling anak tentu tak merasa nyaman
dengan sikap ini. Tak ada perilaku yang tidak bisa diubah. Bahkan walaupun
merupakan keturunan, sifat pemarah bisa diarahkan keperilaku yang lebih baik.
Devi memberi beberapa poin penting yang mesti diperhatikan orang tua dalam
menangani sifat pemarah anak.
Pertama,
berikan contoh bagaimana menyalurkan kemarahan dengan cara positif. “Apa yang
dilihat dan didengar anak setiap hari, itulah yang diserap dan diterapkannya.
Kalau mau anak ini berubah, ya suasana rumahnya juga harus berubah. Sebisa
mungkin anak dijauhkan dari lingkungan yang negative sehingga mereka punya
model yang bagus untuk perilaku mereka.
Kedua,
binalah selalu komunikasi yang baik dengan anak. Dengan komunikasi yang lancar
dalam kondisi apapun anak tetap bisa mengungkapkan perasaan dan emosinya kepada
orang tua, walaupun yang ingin diungkapkan kemarahan. Dalam suasana ini pula
anak bisa dengan mudah diajak untuk belajar mengelola amarahnya dengan cara
yang lebih baik, tidak meledak-ledak dan melemparkan barang. Selain mengelola
amarah, ajarkan anak untuk memecahkan masalah tersebut.
Ketiga,
menahan diri agar jangan ikut terpancing marah. Menghadapi anak yang sedang marah,
bisa memancing kemarahan orang tua juga. Sebaliknya, saat anak marah, biarkan
sejenak . sementara kita menenangkan diri dulu, jangan sampai orang tua
menangani anak yang marah dengan kemarhan juga.
Memang
tidak mudah menghadapi anak yang gampang marah, kesabaran dan konsistensi
adalah kuncinya.
Sumber
:
Majalah
Wanita Ummi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar